JAKARTA – Ikatan Mahasiswa Timur Trisakti (IMITRI) memutuskan membatalkan rencana aksi unjuk rasa yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung pada September 2026. Keputusan tersebut diambil dengan mengalihkan agenda pergerakan dari aksi jalanan menuju ruang akademik melalui diskusi, konsolidasi internal, dan kajian terhadap berbagai persoalan kebijakan publik.
Pembatalan aksi disebut sebagai langkah untuk menjaga keselamatan bersama sekaligus mempertimbangkan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). IMITRI menilai penyampaian kritik dan aspirasi mahasiswa tetap dapat dilakukan melalui forum ilmiah yang memungkinkan setiap persoalan dikaji secara lebih mendalam, objektif, dan berbasis argumentasi.
Perwakilan IMITRI mengatakan keputusan tersebut bukan berarti mahasiswa menghentikan sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah. Menurutnya, ruang akademik justru dipilih untuk memperkuat substansi gerakan agar setiap tuntutan yang disampaikan memiliki dasar kajian yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami memilih membatalkan aksi turun ke jalan di bulan September ini untuk menjaga situasi Kamtibmas tetap kondusif. Fokus kami saat ini dialihkan sepenuhnya pada ruang-ruang diskusi ilmiah untuk membedah kebijakan tata kelola negara secara objektif,” ujar perwakilan IMITRI.
IMITRI juga menyatakan tidak ingin gerakan mahasiswa yang dibangun secara mandiri justru dimanfaatkan oleh kepentingan lain yang dapat memunculkan provokasi maupun tindakan kontraproduktif. Karena itu, konsolidasi internal dan diskusi ilmiah menjadi bagian dari strategi untuk menyusun sikap organisasi secara lebih terukur, termasuk merumuskan sejumlah rekomendasi terhadap kebijakan publik.
Sebagai tindak lanjut, IMITRI menyiapkan rangkaian diskusi dan konsolidasi di base camp organisasi. Forum tersebut diarahkan untuk membedah kebijakan tata kelola negara sekaligus merumuskan rekomendasi yang nantinya dapat disampaikan melalui jalur akademik dan ruang dialog. Dengan pilihan tersebut, IMITRI menegaskan bahwa pembatalan aksi jalanan bukan berarti mengakhiri gerakan kritis mahasiswa, melainkan mengubah kanal perjuangan ke ruang kajian dan adu gagasan. (ADR)
